Ada sebuah kisah tentang cinta yang sebenar-benar cinta yang dicontohkan Allah melalui kehidupan Rasul-Nya.
Pagi itu, walaupun langit telah mulai menguning, burung-burung gurun enggan mengepakkan sayap.
Pagi itu..
Rasulullah dengan suara terbatas memberikan khutbah.
"Wahai umatku..
Kita semua ada dalam kekuasaan Allah dan cinta kasih-Nya. Maka taati dan bertakwalah kepada-Nya."
"Kuwariskan dua perkara pada kalian, Al Qur'an dan sunnahku."
"Barang siapa mencintai sunnahku, berarti mencintai aku dan kelak orang-orang yang mencintaiku akan masuk syurga bersama-sama aku."
Khutbah singkat itu diakhiri dengan pandangan mata Rasulullah yang tenang dan penuh minat menatap sahabatnya satu persatu.
Abu Bakar menatap mata itu dengan berkaca-kaca.
Umar dadanya naik turun menahan nafas dan tangisnya.
Usman menghela nafas panjang.
Ali menundukkan kepalanya dalam-dalam.
Isyarat itu telah datang, saatnya sudah tiba..
"Rasulullah akan meninggalkan kita semua."
keluh hati semua sahabat kala itu.
Manusia tercinta itu, hampir selesai menunaikan tugasnya di dunia.
Tanda-tanda itu semakin kuat..
Ali dan Fadhal dengan cepat menangkap Rasulullah yang berkeadaan lemah dan goyah ketika turun dari mimbar.
Disaat itu, kalau mampu, seluruh sahabat yang hadir di sana pasti akan menahan detik-detik berlalu.
Matahari kian tinggi, tapi pintu rumah Rasulullah masih tertutup.
Sedang di dalamnya, Rasulullah sedang terbaring lemah dengan keningnya yang berkeringat dan membasahi pelepah kurma yang menjadi alas tidurnya.
Tiba-tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam.
"Bolehkah saya masuk?" tanyanya.
Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk.
"Maaflah, ayahku sedang demam."
kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup daun pintu.
Kemudian ia kembali menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah.
"Siapakah itu wahai anakku?"
"Tak tahulah ayahku, orang sepertinya baru sekali ini aku melihatnya."
tutur Fatimah lembut.
Lalu Rasulullah menatap puterinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Seolah-olah bahagian demi bahagian wajah anaknya itu hendak dikenang.
"Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara, dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malakul maut." kata Rasulullah.
Fatimah pun menahan ledakkan tangisnya.
Malaikat maut datang menghampiri, tapi Rasulullah menanyakan kenapa Jibril tidak ikut sama menyertainya.
Kemudian dipanggilah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap di atas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini.
"Jibril, jelaskan apa hakku nanti di hadapan Allah?"
tanya Rasulullah dengan suara yang amat lemah.
"Pintu-pintu langit telah terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu. Semua syurga terbuka lebar menanti kedatanganmu."
kata Jibril.
Tapi itu ternyata tidak membuatkan Rasulullah lega.
Matanya masih penuh kecemasan.
"Engkau tidak senang mendengar khabar ini?"
tanya Jibril lagi.
"Khabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak?"
"Jangan khawatir wahai Rasul Allah. Aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku:
Kuharamkan syurga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya."
kata Jibril.
Detik detik semakin dekat. Saatnya Izrail melakukan tugas.
Perlahan ruh Rasulullah ditarik.
Nampak seluruh tubuh Rasulullah bersimbah peluh. Urat-urat lehernya menegang.
"Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini."
perlahan Rasulullah mengaduh.
Fatimah terpejam.
Ali yang di sampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril memalingkan muka.
"Jijik kah kau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu Jibril?"
tanya Rasulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu.
"Siapakah yang sanggup, melihat kekasih Allah direnggut ajal."
kata Jibril.
Sebentar kemudian terdengar Rasulullah memekik. Karena sakit yang tidak tertahankan lagi.
"Ya Allah!! Dahsyat nian maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan pada umatku."
Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi.
Bibirnya bergetar seakan hendak membisikkan sesuatu.
Ali segera mendekatkan telinganya.
"Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanuku.
Peliharalah shalat dan peliharalah orang-orang lemah di antaramu."
Di luar pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan.
Fatimah menutupkan tangan di wajahnya. Dan Ali kembali mendekatkan telinganya ke bibir Rasulullah yang mulai kebiruan.
"Ummatii.. Ummatii.. Ummatiii.."
Dan berakhirlah hidup manusia mulia yang memberi sinaran itu..
Allahumma sholli 'ala Muhammad wa baarik wa salim 'alaih..
Betapa cintanya Rasulullah kepada kita.
2012/08/01
Keistimewaan Wanita
- Do'a wanita lebih makbul daripada lelaki karena sifat penyayangnya yang lebih kuat dari lelaki.
- Wanita yang sholihah itu lebih baik daripada 1000 orang lelaki yang sholeh.
- Barangsiapa yang menggembirakan anak wanitanya, derajatnya seumpama orang yang senantiasa menangis karena takut kepada Allah SWT.
- Barangsiapang membawa hadiah (oleh-oleh) lalu di berikan kepada keluarganya, hendaklah mendahulukan anak wanitanya daripada anak laki-laki.
- Wanita yang tinggal bersama anak-anaknya akan tinggal bersama Rasulullah saw. Di dalam Surga.
- Barangsiapa mempunyai 2 atau 3 anak wanita, atau 2 atau 3 saudara wanita lalu di bersikap ihsan dalam pergaulan dengan mereka dan mendidik mereka dengan penuh rasa taqwa dan tanggung jawab maka baginya adalah Surga.
- Barang siapa yang diuji dengan sesuatu daripada anak-anak wanitanya, lalu dia berbuat baik kepada mereka, maka mereka akan menjadi penghalang baginya dari api neraka (Aisyah r.a).
- Surga di bawah telapak kaki Ibu (hadits).
- Wanita yang taat berkhidmat kepada suaminya akan tertutup pintu-pintu neraka dan terbuka pintu-pintu Surga, maka masuklah dari pintu yang dikehendaki.
- Wanita yang taat akan suaminya serta menjaga sholat dan puasanya, semua ikan-ikan di laut, burung di udara, malaikat di langit, matahari dan bulan, semuanya beristighfar baginya selama dia taat pada suaminya dan di relakannya.
- Apabila memanggil akan engkau dua orang Ibu Bapakmu, maka jawablah panggilan Ibumu dahulu.
- Wanita apabila sholat 5 waktu, puasa 1 bulan Ramadhan, memelihara kehormatannya serta taat akan suaminya, masuklah dia dari pintu mana saja yang ia kehendaki.
- Tiap wanita yang menolong suaminya dalam urusan agama, maka Allah SWT. memasuka dia kedalam Surga 10.000 tahun lebih dahulu dari suaminya.
- Apabila seorang wanita mengandung janin dalam rahimnya, maka beristighfar lah para malaikat untuknya, Allah Swt. mencatat baginya setiap hari dengan 1000 kebaikan dan menghapuskan darinya 1000 kejahatan.
- Apabila seorang wanita mulai sakit hendak bersalin, maka Allah Swt. mencatatkan baginya pahala orang yang berjihad pada jalan Allah.
- Apabila seorang wanita melahirkan anak, keluarlah dia daripada dosa-dosa seperti keadaan ibunya melahirkannya.
- Apabila telah lahir anaknya lalu disusuinya, maka bagi ibu itu setiap satu tegukan daripada susunya di beri satu kebajikan.
- Apabila ibu semalaman tidak tidur karena memelihara anaknya yang sakit, maka Allah Swt. memberinya pahala sepeti memerdekakan 70 orang hamba dengan ikhlas untuk membela agama Allah.
#Copas--> Wanita calon penghuni Surga (Buku) _ H. Asep Holid Firdaus
SubhanAllah, maka bersyukurlah engkau karena telah di lahirkan menjadi seorang wanita. Dan berterima kasih lah kepada Ibumu yang melahirkanmu.
Ibumu, Ibumu, Ibumu, Ayahmu.
Allahuakbar.... :)
Saudariku, Apa Yang Menghalangimu Untuk Berjilbab?
Saudariku…
Seorang mukmin dengan mukmin lain ibarat cermin. Bukan cermin yang memantulkan bayangan fisik, melainkan cermin yang menjadi refleksi akhlak dan tingkah laku. Kita dapat mengetahui dan melihat kekurangan kita dari saudara seagama kita. Cerminan baik dari saudara kita tentulah baik pula untuk kita ikuti. Sedangkan cerminan buruk dari saudara kita lebih pantas untuk kita tinggalkan dan jadikan pembelajaran untuk saling memperbaiki.
Saudariku…
Tentu engkau sudah mengetahui bahwa Islam mengajarkan kita untuk saling mencintai. Dan salah satu bukti cinta Islam kepada kita –kaum wanita– adalah perintah untuk berjilbab. Namun, kulihat engkau masih belum mengambil “kado istimewa” itu. Kudengar masih banyak alasan yang menginap di rongga-rongga pikiran dan hatimu setiap kali kutanya, “Kenapa jilbabmu masih belum kau pakai?”Padahal sudah banyak waktu kau luangkan untuk mengkaji ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits-hadits Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tentang perintah jilbab. Sudah sekian judul buku engkau baca untuk memantapkan hatimu agar segera berjilbab. Juga ribuan surat cinta dari saudarimu yang menginginkan agar jilbabmu itu segera kau kenakan. Lalu kenapa, jilbabmu masih terlipat rapi di dalam lemari dan bukan terjulur untuk menutupi dirimu?
Mengapa Harus Berjilbab?
Mungkin aku harus kembali mengingatkanmu tentang alasan penting kenapa Allah Subhanahu wa Ta’ala menurunkan perintah jilbab kepada kita –kaum Hawa- dan bukan kepada kaum Adam. Saudariku, jilbab adalah pakaian yang berfungsi untuk menutupi perhiasan dan keindahan dirimu, agar dia tidak dinikmati oleh sembarang orang. Ingatkah engkau ketika engkau membeli pakaian di pertokoan, mula-mula engkau melihatnya, memegangnya, mencobanya, lalu ketika kau jatuh cinta kepadanya, engkau akan meminta kepada pemilik toko untuk memberikanmu pakaian serupa yang masih baru dalam segel. Kenapa demikian? Karena engkau ingin mengenakan pakaian yang baru, bersih dan belum tersentuh oleh tangan-tangan orang lain. Jika demikian sikapmu pada pakaian yang hendak engkau beli, maka bagaimana sikapmu pada dirimu sendiri? Tentu engkau akan lebih memantapkan ’segel’nya, agar dia tetap ber’nilai jual’ tinggi, bukankah demikian? Saudariku, izinkan aku sedikit mengingatkanmu pada firman Rabb kita ‘Azza wa Jalla berikut ini,
“Katakanlah kepada wanita-wanita beriman: ‘Hendaklah mereka menahan pandangan mereka, dan memelihara kemaluan mereka, dan janganlah mereka menampakkan perhiasan mereka kecuali yang (biasa) nampak daripadanya.’” (Qs. An-Nuur: 31)
Dan firman-Nya,
“Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin, ‘Hendaklah mereka menjulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.’ Yang demikian itu supaya mereka lebih mudah untuk dikenali, karena itu mereka tidak diganggu. Dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Qs. Al-Ahzaab: 59) Saudariku tercinta, Allah tidak semata-mata menurunkan perintah jilbab kepada kita tanpa ada hikmah dibalik semuanya. Allah telah mensyari’atkan jilbab atas kaum wanita, karena Allah Yang Maha Mengetahui menginginkan supaya kaum wanita
mendapatkan kemuliaan dan kesucian di segala aspek kehidupan, baik dia adalah seorang anak, seorang ibu, seorang saudari, seorang bibi, atau pun sebagai seorang individu yang menjadi bagian dari masyarakat. Allah menjadikan jilbab sebagai perangkat untuk melindungi kita dari berbagai “virus” ganas yang merajalela di luar sana. Sebagaimana yang pernah disabdakan oleh Abul Qasim Muhammad bin ‘Abdullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, yang artinya,
“Wanita itu adalah aurat, jika ia keluar rumah, maka syaithan akan menghiasinya.”(Hadits shahih. Riwayat Tirmidzi (no. 1173), Ibnu Khuzaimah (III/95) dan ath-Thabrani dalam Mu’jamul Kabiir (no. 10115), dari Shahabat ‘Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu ‘anhuma)
Saudariku, berjilbab bukan hanya sebuah identitas bagimu untuk menunjukkan bahwa engkau adalah seorang muslimah. Tetapi jilbab adalah suatu bentuk ketaatanmu kepada Allah Ta’ala, selain shalat, puasa, dan ibadah lain yang telah engkau kerjakan. Jilbab juga merupakan konsekuensi nyata dari seorang wanita yang menyatakan bahwa dia telah beriman kepada Allah Ta’ala dan Rasul-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam. Selain itu, jilbab juga merupakan lambang kehormatan, kesucian, rasa malu, dan kecemburuan. Dan semua itu Allah jadikan baik untukmu. Tidakkah hatimu terketuk dengan kasih sayang Rabb kita yang tiada duanya ini?
“Aku Belum Berjilbab, Karena…”
1. “Hatiku masih belum mantap untuk berjilbab. Jika hatiku sudah mantap, aku akan segera berjilbab. Lagipula aku masih melaksanakan shalat, puasa dan semua perintah wajib kok..”
Wahai saudariku… Sadarkah engkau, siapa yang memerintahmu untuk mengenakan jilbab? Dia-lah Allah, Rabb-mu, Rabb seluruh manusia, Rabb alam semesta. Engkau telah melakukan berbagai perintah Allah yang berpangkal dari iman dan ketaatan, tetapi mengapa engkau beriman kepada sebagian ketetapan-Nya dan ingkar terhadap sebagian yang lain, padahal engkau mengetahui bahwa sumber dari semua perintah itu adalah satu, yakni Allah Subhanahu wa Ta’ala?
Seperti shalat dan amalan lain yang senantiasa engkau kerjakan, maka berjilbab pun adalah satu amalan yang seharusnya juga engkau perhatikan. Allah Ta’ala telah menurunkan perintah hijab kepada setiap wanita mukminah. Maka itu berarti bahwa hanya wanita-wanita yang memiliki iman yang ridha mengerjakan perintah ini. Adakah engkau tidak termasuk ke dalam golongan wanita mukminah?
Ingatlah saudariku, bahwa sesungguhnya keadaanmu yang tidak berjilbab namun masih mengerjakan amalan-amalan lain, adalah seperti orang yang membawa satu kendi penuh dengan kebaikan akan tetapi kendi itu berlubang, karena engkau tidak berjilbab. Janganlah engkau sia-siakan amal shalihmu disebabkan orang-orang yang dengan bebas di setiap tempat memandangi dirimu yang tidak mengenakan jilbab. Silakan engkau bandingkan jumlah lelaki yang bukan mahram yang melihatmu tanpa jilbab setiap hari dengan jumlah pahala yang engkau peroleh, adakah sama banyaknya?
2. “Iman kan letaknya di hati. Dan yang tahu hati seseorang hanya aku dan Allah.”
Duhai saudariku…Tahukah engkau bahwa sahnya iman seseorang itu terwujud dengan tiga hal, yakni meyakini sepenuhnya dengan hati, menyebutnya dengan lisan, dan melakukannya dengan perbuatan?
Seseorang yang beramal hanya sebatas perbuatan dan lisan, tanpa disertai dengan keyakinan penuh dalam hatinya, maka dia termasuk ke dalam golongan orang munafik. Sementara seseorang yang beriman hanya dengan hatinya, tanpa direalisasikan dengan amal perbuatan yang nyata, maka dia termasuk kepada golongan orang fasik. Keduanya bukanlah bagian dari golongan orang mukmin. Karena seorang mukmin tidak hanya meyakini dengan hati, tetapi dia juga merealisasikan apa yang diyakininya melalui lisan dan amal perbuatan. Dan jika engkau telah mengimani perintah jilbab dengan hatimu dan engkau juga telah mengakuinya dengan lisanmu, maka sempurnakanlah keyakinanmu itu dengan bersegera mengamalkan perintah jilbab.
3. “Aku kan masih muda…”
Saudariku tercinta… Engkau berkata bahwa usiamu masih belia sehingga menahanmu dari mengenakan jilbab, dapatkah engkau menjamin bahwa esok masih untuk dirimu? Apakah engkau telah mengetahui jatah hidupmu di dunia, sehingga engkau berkata bahwa engkau masih muda dan masih memiliki waktu yang panjang? Belumkah engkau baca firman Allah ‘Azza wa Jalla yang artinya,
“Kamu tidak tinggal (di bumi) melainkan sebentar saja, jika kamu sesungguhnya mengetahui.” (Qs. Al-Mu’minuun: 114)
“Pada hari mereka melihat adzab yang diancam kepada mereka, (mereka merasa) seolah-olah tidak tinggal (di dunia) melainkan sesaat pada siang hari. (Inilah) waktu pelajaran yang cukup.” (Qs. Al-Ahqaaf: 35)
Tidakkah engkau perhatikan tetanggamu atau teman karibmu yang seusia denganmu atau di bawah usiamu telah menemui Malaikat Maut karena perintah Allah ‘Azza wa Jalla? Tidakkah juga engkau perhatikan si fulanah yang kemarin masih baik-baik saja, tiba-tiba menemui ajalnya dan menjadi mayat hari ini? Tidakkah semua itu menjadi peringatan bagimu, bahwa kematian tidak hanya mengetuk pintu orang yang sekarat atau pun orang yang lanjut usia? Dan Malaikat Maut tidak akan memberimu penangguhan waktu barang sedetik pun, ketika ajalmu sudah sampai. Setiap hari berlalu sementara akhiratmu bertambah dekat dan dunia bertambah jauh. Bekal apa yang telah engkau siapkan untuk hidup sesudah mati? Ketahuilah saudariku, kematian itu datangnya lebih cepat dari detak jantungmu yang berikutnya. Jadi cepatlah, jangan sampai terlambat…
4. “Jilbab bikin rambutku jadi rontok…”
Sepertinya engkau belum mengetahui fakta terbaru mengenai ‘canggih’nya jilbab. Dr. Muhammad Nidaa berkata dalam Al-Hijaab wa Ta’tsiruuha ‘Ala Shihhah wa Salamatus Sya’ri tentang pengaruh jilbab terhadap kesehatan dan keselamatan rambut,
“Jilbab dapat melindungi rambut. Penelitian dan percobaan telah membuktikan bahwa perubahan cuaca dan cahaya matahari langsung akan menyebabkan hilangnya kecantikan rambut dan pudarnya warna rambut. Sehingga rambut menjadi kasar dan berwarna kusam. Sebagaimana juga udara luar (oksigen) dan hawa tidaklah berperan dalam pertumbuhan rambut. Karena bagian rambut yang terlihat di atas kepala yang dikenal dengan sebutan batang rambut tidak lain adalah sel-sel kornea (yang tidak memiliki kehidupan). Ia akan terus memanjang berbagi sama rata dengan rambut yang ada di dalam kulit. Bagian yang aktif inilah yang menyebabkan rambut bertambah panjang dengan ukuran sekian millimeter setiap hari. Ia mendapatkan suplai makanan dari sel-sel darah dalam kulit.
Dari sana dapat kita katakan bahwa kesehatan rambut bergantung pada kesehatan tubuh secara umum. Bahwa apa saja yang mempengaruhi kesehatan tubuh, berupa sakit atau kekurangan gizi akan menyebabkan lemahnya rambut. Dan dalam kondisi mengenakan jilbab, rambut harus dicuci dengan sabun atau shampo dua atau tiga kali dalam sepekan, menurut kadar lemak pada kulit kepala. Maksudnya apabila kulit kepala berminyak, maka hendaklah mencuci rambut tiga kali dalam sepekan. Jika tidak maka cukup mencucinya dua kali dalam sepekan. Jangan sampai kurang dari kadar ini dalam kondisi apapun. Karena sesudah tiga hari, minyak pada kulit kepala akan berubah menjadi asam dan hal itu akan menyebabkan patahnya batang rambut, dan rambut pun akan rontok.” (Terj. Banaatunaa wal Hijab hal. 66-67)
5. “Kalau aku pakai jilbab, nanti tidak ada laki-laki yang mau menikah denganku. Jadi, aku pakai jilbabnya nanti saja, sesudah menikah.”
Wahai saudariku… Tahukah engkau siapakah lelaki yang datang meminangmu itu, sementara engkau masih belum berjilbab? Dia adalah lelaki dayyuts, yang tidak memiliki perasaan cemburu melihatmu mengobral aurat sembarangan. Bagaimana engkau bisa berpendapat bahwa setelah menikah nanti, suamimu itu akan ridha membiarkanmu mengulur jilbab dan menutup aurat, sementara sebelum pernikahan itu terjadi dia masih santai saja mendapati dirimu tampil dengan pakaian ala kadarnya? Jika benar dia mencintai dirimu, maka seharusnya dia memiliki perasaan cemburu ketika melihat auratmu terbuka barang sejengkal saja. Dia akan menjaga dirimu dari pandangan liar lelaki hidung belang yang berkeliaran di luar sana. Dia akan lebih memilih dirimu yang berjilbab daripada dirimu yang tanpa jilbab. Inilah yang dinamakan pembuktian cinta yang hakiki!
Maka, jika datang seorang lelaki yang meminangmu dan ridha atas keadaanmu yang masih belum berjilbab, waspadalah. Jangan-jangan dia adalah lelaki dayyuts yang menjadi calon penghuni Neraka. Sekarang pikirkanlah olehmu saudariku, kemanakah bahtera rumah tanggamu akan bermuara apabila nahkodanya adalah calon penghuni Neraka?
6. “Pakai jilbab itu ribet dan mengganggu pekerjaan. Bisa-bisa nanti aku dipecat dari pekerjaan.”
Saudariku… Islam tidak pernah membatasi ruang gerak seseorang selama hal tersebut tidak mengandung kemaksiatan kepada Allah. Akan tetapi, Islam membatasi segala hal yang dapat membahayakan seorang wanita dalam melakukan aktivitasnya baik dari sisi dunia maupun dari sisi akhiratnya. Jilbab yang menjadi salah satu syari’at Islam adalah sebuah penghargaan sekaligus perlindungan bagi kaum wanita, terutama jika dia hendak melakukan aktivitas di luar rumahnya. Maka dengan perginya engkau untuk bekerja di luar rumah tanpa jilbab justru akan mendatangkan petaka yang seharusnya dapat engkau hindari. Alih-alih mempertahankan pekerjaan, engkau malah menggadaikan kehormatan dan harga dirimu demi setumpuk materi.
Tahukah engkau saudariku, siapa yang memberimu rizki? Bukankah Allah -Rabb yang berada di atas ‘Arsy-Nya- yang memerintahkan para malaikat untuk membagikan rizki kepada setiap hamba tanpa ada yang dikurangi barang sedikitpun? Mengapa engkau lebih mengkhawatirkan atasanmu yang juga rizkinya bergantung kepada kemurahan Allah?
Apakah jika engkau lebih memilih untuk tetap tidak berjilbab, maka atasanmu itu akan menjamin dirimu menjadi calon penghuni Surga? Ataukah Allah ‘Azza wa Jalla yang telah menurunkan perintah ini kepada Nabi-Nya shallallahu ‘alaihi wa sallam yang akan mengadzabmu akibat kedurhakaanmu itu? Pikirkanlah saudariku… Pikirkanlah hal ini baik-baik!
7. “Jilbab itu bikin gerah, dan aku tidak kuat kepanasan.”
Saudariku… Panas mentari yang engkau rasakan di dalam dunia ini tidak sebanding dengan panasnya Neraka yang akan kau terima kelak, jika engkau masih belum mau untuk berjilbab. Sungguh, dia tidak sebanding. Apakah engkau belum mendengar firman Allah yang berbunyi,
“Katakanlah: ‘(Api) Neraka Jahannam itu lebih sangat panas. Jika mereka mengetahui.’” (Qs. At-Taubah: 81)
Dan sabda Nabi kita shallallahu ‘alaihi wa sallam yang artinya,
“Sesungguhnya api Neraka Jahannam itu dilebihkan panasnya (dari panas api di bumi sebesar) enam puluh sembilan kali lipat (bagian).” [Hadits shahih. Riwayat Muslim (no. 2843) dan Ahmad (no. 8132). Lihat juga Shahih Al-Jaami' (no. 6742), dari Shahabat Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu]
Manakah yang lebih sanggup engkau bersabar darinya, panasnya matahari di bumi ataukah panasnya Neraka di akhirat nanti? Tentu engkau bisa menimbangnya sendiri…
8. “Jilbab itu pilihan. Siapa yang mau pakai jilbab silakan, yang belum mau juga gak apa-apa. Yang penting akhlaknya saja benar.”
Duhai saudariku… Sepertinya engkau belum tahu apa yang dimaksud dengan akhlak mulia itu. Engkau menafikan jilbab dari cakupan akhlak mulia, padahal sudah jelas bahwa jilbab adalah salah satu bentuk perwujudan akhlak mulia. Jika tidak, maka Allah tidak akan memerintahkan kita untuk berjilbab, karena dia tidak termasuk ke dalam akhlak mulia.
Pikirkanlah olehmu baik-baik, adakah Allah memerintahkan hamba-Nya untuk berakhlak buruk? Atau adakah Allah mengadakan suatu ketentuan yang tidak termasuk dalam kebaikan dan mengandung manfaat yang sangat besar? Jika engkau menjawab tidak ada, maka dengan demikian engkau telah membantah pendapatmu sendiri dan engkau telah setuju bahwa jilbab termasuk ke dalam sekian banyak akhlak mulia yang harus kita koleksi satu persatu. Bukankah demikian?
Ketahuilah olehmu, keputusanmu untuk tidak mengenakan jilbab akan membuat Rabb-mu menjadi cemburu, sebagaimana Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah bersabda yang artinya,
“Sesungguhnya Allah itu cemburu dan seorang Mukmin juga cemburu. Adapun cemburunya Allah disebabkan oleh seorang hamba yang mengerjakan perkara yang diharamkan oleh-Nya.” [Hadits shahih. Riwayat Bukhari (no. 4925) dan Muslim (no. 2761)]
9. “Sepertinya Allah belum memberiku hidayah untuk segera berjilbab.”
Saudariku… Hidayah Allah tidak akan datang begitu saja, tanpa engkau melakukan apa-apa. Engkau harus menjalankan sunnatullah, yakni dengan mencari sebab-sebab datangnya hidayah tersebut.
Ketahuilah bahwa hidayah itu terbagi menjadi dua, yaitu hidayatul bayan dan hidayatut taufiq.Hidayatul bayan adalah bimbingan atau petunjuk kepada kebenaran, dan di dalamnya terdapat campur tangan manusia. Adapun hidayatut taufiq adalah sepenuhnya hak Allah. Dia merupakan peneguhan, penjagaan, dan pertolongan yang diberikan Allah kepada hati seseorang agar tetap dalam kebenaran. Dan hidayah ini akan datang setelah hidayatul bayan dilakukan.
Janganlah engkau jual kebahagiaanmu yang abadi dalam Surga kelak dengan dunia yang fana ini. Buanglah jauh-jauh perasaan was-wasmu itu. Tempuhlah usaha itu dengan berjilbab, sementara hatimu terus berdo’a kepada-Nya, “Allahummahdini wa saddidni. Allahumma tsabit qolbi ‘ala dinik(Yaa Allah, berilah aku petunjuk dan luruskanlah diriku. Yaa Allah, tetapkanlah hatiku di atas agama-Mu).”
-Bersambung Insya Allah-
Penulis: Ummu Sufyan Rahmawaty Woly bintu Muhammad
Murojaah: Ust. Aris Munandar hafidzahullah
2012/05/24
2012/05/04
Receive at 2 International High School
DITERIMA DI DUA SEKOLAH UNGGUL SUMBAR
Seminggu
sebelum kelulusan, saya mendengar telah dibukanya sebuah SMA baru yang unggul
Sumatera Barat. Mendengar kabar tsb, saya langsung bersemangat mencari profil
sekolah tsb karena hanya dinuka untuk dua kelas (64 siswa). Ternyata nama
sekolah tsb adalah SMAN 1 SUMATERA BARAT. Saya dan ibu saya, langsung mencari
informasi mengenai bagaimana sistem penerimaan siswa baru. Tetapi sayang
sekali, kami hanya mendapat sedikit informasi saja hari itu (28/05). Akhirnya
kami memutuskan untuk mencari informasi berikutnya keesokan harinya.
(29/05) Hari ini dengan
semangat, saya bangun lebih awal. Agar dapat wmujur tak dapat diraih, malang
tak dapat ditunda. Ternyata sekolah tsb tidak berada di kota Padang, di
Pariaman, di Solok, ataupun daerah terdekat dikota Padang. SMAN 1 SUMBAR tsb
berada di kota Padang Panjang yang bersebelahan langsung dengan kampung saya
yaitu Bukittinggi. Ternyata penerimaan siswa baru disana, tidak menerima dengan
online ataupun dengan memperhitungkan Nilai Ujian Nasional namun dengan di tes
secara langsung oleh guru-guru yang berkualitas. Setelah merasa mendapatkan
informasi yang cukup mengenai sekolah yang baru dibuka pada tahun ajaran ini
(2011/2012), kami langsung pulang dan beristirahat di rumah.
Keesokan siangnya (30/05),
saya sekeluarga langsung merapatkan bagaimana rencana kedepannya, apakah saya
akan tetap memilih untuk menunggu pengumuman psb di SMAN 10 PADANG atau, saya
akan tetap memilih SMAN 1 SUMBAR apabila tidak lulus di SMAN 10 PADANG. Setelah
lama berdiskusi akhirnya saya sepakat dengan orang tua membuat komitmen bahwa
saya akan tetap tes di Sman 1 Sumbar, walaupun diterima di Sman 10 Padang
sebagai pilihan kedua.
Sabtu (4/06) adalah
penerimaan surat kelulusan di smp. Saya begitu deg-degan setiap detik di
sekolah. Ketika penerimaan amplop yang isinya surat kelulusan, perasaan saya
langsung tidak karuan. Perasaan takut dan cemas berkumpul menjadi satu. Dan
alhasil saya lulus. Setelah beberapa lama di sekolah sambil melepas kecemasan
bersama teman-teman, saya mendapat info dari salah satu intel saya bahwa
sekolah saya (SMP N 5 PADANG) Lulus 100%. Mendengar info yang belum tentu
kebenarannya itu saya langsung mengkonfirmasikan kepada kepala sekolah.
Ternyata kabar burung itu benar, bahwa kami lulus 100%. Akhirnya tuntaslah
semua perjuangan saya selama kurang lebih tiga tahun terhadap SMP N 5 Padang
yang telah saya besarkan namanya hingga tingkat Provinsi.
Minggu (5/06) merupakan
hari yang jauh lebih mencemaskan dari hari-hari sebelumnya. Karena dihari
inilah pengumuman psb di Sman 10 Padang. Saya begitu cemas dan takut, perasaan
tidak karuan, dan berbagai macam pikiran mengenai tidak lulus dan harus
kerencana 2. Tapi alhamdulillah, saya akhirnya diteriman di SMAN 10 PADANG
dengan nomor urut 14 dari 256 siswa, yang meningkat dr hasil tes sebelumnya
yaitu 23 dari 700 peserta. Perasaan gembira, bangga, dan haru bercampur menjadi
satu. Setelah melewati masa 6 hari karantina yang hebat, yang sangat menguras
fisik dan mental, akhirnya semuanya berbuah sangat manis. Saya langsung
buru-buru pulang ke rumah untuk, menyampaikan kabar gembira ini kepada kedua
orang tercinta yang tak kenal lelah untuk mensuport saya dari titik awal sampai
ke titik akhir.
Sesampainya dirumah,
setelah saya menyampaikan kabar gembira ini kepada kedua orang tua saya.
Keduanya langsung sujud syukur kepada Allah swt. Namun, kebahagiaan itu hanya
berlangsung beberapa menit. Menit-menit kemudian, adalah menit-menit dan
hari-hari dengan pilihan yang jauh lebih sulit. Kami kembali berdiskusi
mengenai dua pilihan yang sangat menentukan. Pilihan banyak dibebankan kepada
saya sendiri, karena nantinya juga sayalah yang menjalani kehidupan didua
sekolah tsb, apakah SMAN 10 PADANG yang sudah jelas didepan mata tapi, belum
jelas untuk biaya selanjutnya, atau SMAN 1 SUMATERA BARAT yang bisa disebut
belum jelas namun, apabila saya diterima disana orang tua saya tidak perlu
memikirkan lagi biaya sekolah yang mahal. Saya tetap kuat pada pendirian yaitu
akan melanjutkan rencana kedua dengan tetap pergi test ke Sman 1 SUMBAR.
Akhirnya kedua orang tua saya setuju karena, apalah salahnya mencoba sambil
menambah-nambah pengalaman.
Keesokan paginya (06/06)
saya langsung bersiap-bersiap untuk berangkat ke Padang Panjang dengan tekad,
akan menerima apapun hasilnya karena itulah yang terbaik bagi saya, kedua orang
tua dan itulah pilihan Allah SWT. Saya baru berangkat dari Padang jam 17.00 dan
amat sayang sekali, kami terjebak macet selama 2 jam lebih. Dikarenakan jalan
yang kami lalui akan menjadi rute TDS (Tour De Singkarak 2011). Baru setelah
jam 21.00 kami lepas dari kemacetan dan langsung tancap gas ke Bukittinggi,
karena kami menginap disana. Pukul telah menunjukan 23.00 wib, saat itu saya
dan ayah saya baru saja sampai dikota kelahiran kami. Karena merasa sangat
lelah, saya langsung pergi kekamar dan beristirahat.
Selasa (07/06) pukul
07.00 pagi saya telah siap dengan ayah saya langsung melaju ke Padang Panjang
untuk pendaftaran, dan tes dihari terakhir untuk wawancara. Alhamdulillah saya
melewati semua tes dengan lancar dan sukses. Tinggal satu hari lagi saja tes
sebagai tes akademik. Setelah mendapatkan informasi mengenai dimana alamat SMAN
1 SUMBAR tsb, saya dan ayah langsung berkeliling mencari tempatnya. Setelah
kurang lebih satu jam, kami menemukan sebuah gedung megah yang sangat luas dan
tampak sangat asri. Itulah dia gedung SMAN 1 SUMBAR yang selama ini saya
cari-cari dan nanti-nanti. Berdiri kokoh dengan 5 gedung utama (gedung sekolah,
kantor guru, aula, asrama, gedung olahraga) dan tersisa kurang lebih 2 Ha lagi
tempat yang kosong sebagai tempat parkir dsb. Saya langsung bersemangat melihat
suasana sekolah tsb yang sangat indah, dengan pemandangan bukit di kedua
sisinya, terhampar sawah dengan padi yang menguning, udara yang sangat sejuk,
terletak jauh dari kebisingan dan keramaian serta sifat alamnya yang masih
sangat bersahabat. Saya merasa akan betah tinggal disana selama kurang lebih
tiga tahun untuk menuntut ilmu.
Malampun berganti pagi, sekarang (8/06) saya
telah berangkat ke Padang Panjang yaitu tepatnya di SMAN 1 PADANG PANJANG untuk
mengikuti tes kedua. Tes yang kedua ini bersifat lebih efisien daripada tes-tes
wawancara sebelumnya yang membuat jauh
menjenuhkan.
Karena tidak bersifat monoton dan membuang waktu secara percuma. Sesampainya
diruang ujian tsb saya banyak mendapat kenalan yang ternyata orang-orang jauh,
ada yang berasal dari jambi, bengkulu, pekanbaru, solok selatan, painan,
payakumbuh dan pesisir selatan bahkan mereka semua juga bernasib sama dengan
saya kebanyakan. Mereka sudah ditrima di Sma didaerahnya masing-masing dan
menjadikan tes sekolah ini untuk menambah pengalaman, setelah saya tinjau
dengan lebih baik. Mereka semua menginginkan bersekolah disini karena biayanya
yang gratis dan asrama. Alasan mereka sangatlah sama dengan saya sendiri.
Tetapi saya tidak terlalu memikirkan hal tsb, takutnya nanti menganggu
perhatian dalam menjawab soal. Tes keduapun akhirnya selesai dan saya merasa
sudah mengerjakannya dengan maksimal dan hanya menyerahkan hasilnya kepada
Allah SWT. Sekarang tinggal menunggu pengumuman saja, tapi sayang sekali saya
harus buru-buru pulang karena ada keperluan mendadak keesokan harinya. Jadi
kami hanya bertitip pesan dengan salah satu panitia yang bisa kami hubungi
untuk kejelasan selanjutnya.
Tanggal 10 Juni 2011,
merupakan hari pengumuman psb di SMAN 1 SUMBAR. Namun saya tetap memutuskan
untuk tetap berada di Padang, karena takutnya nanti kami keduluan tidak tahu.
Jadi saya hanya menunggu perkembangan informasi yang diberikan oleh panitia
tsb. Jam 09.13 saya mendapat pengumumannya. Dengan sedikit gemetar saya membuka
pesan tsb dengan cucuran keringat dingin. Alhamdulillah kembali terucap dalam
hati dan lisan ini karena doa saya kembali dijawab Allah. Dengan cepat saya
memberi tahu kabar ini kepada kedua orang tua dan orang tua saya menyambutnya
dengan kesyukuran sekaligus wajah bingung.
Kembali kami rapat hari itu juga, memutuskan memilih di dua sekolah
bukanlah perkara yang mudah, apalagi dua sekolah tsb mempunya prediket yang
unggul di Provinsi maupun Nasional, karena persoalan ini sangat rumit, saya
menyerahkannya kepada kedua orang tua bagaimana baiknya, dan tidak lupa
beristikharah kepada yang kuasa. Keputusanpun telah diambil, setelah mengalami
beberapa proses yang sangat lama dan panjang, saya tetap memilih SMAN 10
sebagai sekolah lanjutan saya.
CREATED ©COPYRIGHT CYNTHIA NOVA
Langganan:
Postingan (Atom)


